KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat berhasil dalam menyelesaikan tugas makalah antropologi ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya
yang berjudul “Etnografi Kebudayaan Suku Jawa”
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu diharapkan
demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita semua. Amin.
Bandar
Lampung, April 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ............................................................................................. i
Daftar Isi ......................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Nama dan Bahasa .......................................................................... 3
2.2 Lokasi ................................................................................................ 4
2.3 Demografi ......................................................................................... 5
2.4 Mata
pencaharian ........................................................................... 6
2.5 Organisasi sosial ............................................................................. 6
2.6 Religi ................................................................................................. 7
2.7 Kesenian .......................................................................................... 7
2.8 Sistem pengetahuan ...................................................................... 8
2.9 Peralatan hidup ............................................................................... 8
2.10
Perubahan ....................................................................................... 8
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
....................................................................................... 9
3.2 Saran
.................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suku Jawa merupakan
suku bangsa terbesar di Indonesia yang
berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setidaknya
41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. Selain di ketiga propinsi tersebut,
suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara. Di Jawa Barat mereka
banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Suku Jawa
juga memiliki sub-suku, seperti Osing dan Tengger.
Jawa adalah sebuah pulau di Indonesia dengan
penduduk 136 juta, pulau ini merupakan pulau berpenduduk terpadat di dunia dan
merupakan salah satu wilayah berpenduduk terpadat di dunia. Pulau ini dihuni
oleh 60% penduduk Indonesia. Ibu kota Indonesia, Jakarta, terletak
di Jawa bagian barat. Banyak sejarah Indonesia berlangsung di pulau ini. Jawa
dahulu merupakan pusat dari beberapa kerajaan Hindu-Buddha, kesultanan
Islam,
pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, serta
pusat pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pulau ini
berdampak sangat besar terhadap kehidupan sosial, politik, dan ekonomi
Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
2.
Dari manakah asal mula bahasa Jawa?
3.
Bagaimanakah keadaan lokasi Suku Jawa?
4.
Bagaimanakah bentuk demografi Suku Jawa?
5.
Apakah mata pencaharian masyarakat suku Jawa?
6.
Apa sajakah organisasi sosial suku Jawa?
7.
Bagaimanakah sistem religi di suku Jawa?
8.
Apa sajakah yang terdapat dalam kesenian suku Jawa?
9.
Bagaimanakah sistem pengetahuan suku Jawa?
10. Apa sajakah peralatan hidup suku Jawa?
11. Apa sajakah perubahan yang terdapat pada suku
Jawa?
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
NAMA
dan BAHASA
Secara etimologi asal mula
nama 'Jawa' tidak jelas. Salah satu kemungkinan adalah nama pulau ini berasal
dari tanaman jáwa-wut, yang
banyak ditemukan di pulau ini pada masa purbakala, sebelum masuknya pengaruh
India pulau ini mungkin memiliki banyak nama. Ada pula dugaan bahwa pulau ini berasal dari
kata jaú yang berarti "jauh". Dalam Bahasa
Sanskerta yava berarti
tanaman jelai, sebuah
tanaman yang membuat pulau ini terkenal. Yawadvipa disebut
dalam epik India Ramayana. Sugriwa, panglima wanara
(manusia kera) dari pasukan Sri Rama,
mengirimkan utusannya ke Yawadvipa (pulau Jawa) untuk mencari Dewi Shinta. Kemudian
berdasarkan kesusastraan India terutama pustaka Tamil, disebut dengan nama
Sanskerta yāvaka dvīpa (dvīpa = pulau). Dugaan lain ialah bahwa
kata "Jawa" berasal dari akar kata dalam bahasa Proto-Austronesia,
yang berarti 'rumah'.
Bahasa
yang digunakan suku (Jawa) adalah Bahasa Jawa. Bahasa lisan lebih sering di
gunakan oleh suku kami dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa lisan terbagi
menjadi bahasa “boso” yang lebih sopan dan bahasa kasar. Untuk “boso” biasanya
digunakan pada saat berbicara dengan orang yang lebih tua sepert : Mbah, Ibu,
Bapak, saudara, dan orang lain yang umurnya lebih tua dari kita. Sedangkan
untuk bahasa kasar itu biasanya digunakan untuk berbincang dengan teman sebaya
atau yang lebih muda umurnya. Selain bahasa lisan suku jawa juga mempunyai bahasa
tulisan yang dulunya masih sering digunakan, tetapi untuk saat ini bahasa
tulisan sudah jarang ditemukan dalam masyarakat. Bahasa tulisan masih bisa
ditemukan dengan mudah di daerah yang budaya jawanya masih kental seperti di
Jogjakarta misanya.
Bahasa Jawa
memiliki aturan perbedaan kosa kata dan intonasi berdasarkan hubungan antara
pembicara dan lawan bicara, yang dikenal dengan unggah-ungguh. Aspek
kebahasaan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa, dan
membuat orang Jawa biasanya sangat sadar akan status sosialnya di masyarakat. Terdapat
tiga bahasa utama di pulau ini, namun mayoritas penduduk menggunakan bahasa Jawa. Bahasa Jawa merupakan bahasa ibu dari 60 juta penduduk
Indonesia, dan sebagian besar penuturnya berdiam di pulau Jawa. Sebagian besar
penduduk adalah bilingual, yang berbahasa Indonesia baik sebagai bahasa pertama
maupun kedua.
2.
LOKASI
Lokasi
penduduk suku Jawa saat ini telah tersebar di seluruh nusantara, baik di pulau
Jawa sendiri, Pulau Sumatra, Pulau Sulawesi, Pulau Kalimantan, dll. masyarakat
pengguna Bahasa Jawa juga tersebar di berbagai wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Kawasan-kawasan luar Jawa yang didominasi etnis Jawa atau dalam persentase yang
cukup signifikan adalah : Lampung (61,9%), Sumatera Utara (32,6%), Jambi (27,6%), Sumatera Selatan (27%), Aceh(15,87%)
yang dikenal sebagai Aneuk Jawoe. Khusus
masyarakat Jawa di Sumatera
Utara, mereka merupakan keturunan para kuli kontrak yang
dipekerjakan di berbagai wilayah perkebunan tembakau, khususnya di wilayah Deli sehingga kerap disebut sebagai Jawa Deli
atau Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera), dengan dialek dan
beberapa kosa kata Jawa Deli. Sedangkan masyarakat Jawa di daerah lain
disebarkan melalui program transmigrasi yang
diselenggarakan semenjak zaman penjajahan Belanda.
Selain di
kawasan Nusantara, masyarakat
Jawa juga ditemukan dalam jumlah besar di Suriname, yang
mencapai 15% dari penduduk secara keseluruhan, kemudian di Kaledonia Baru bahkan sampai kawasan Aruba dan Curacao serta Belanda. Sebagian
kecil bahkan menyebar ke wilayah Guyana
Perancis dan Venezuela. Pengiriman
tenaga kerja ke Korea, Hong Kong, serta
beberapa negara Timur Tengah juga
memperluas wilayah sebar pengguna bahasa ini meskipun belum bisa dipastikan
kelestariannya.
3.
DEMOGRAFI
Penduduk pulau Jawa
Dengan
populasi sebesar 136 juta jiwa. Jawa adalah pulau yang menjadi tempat tinggal
lebih dari 57% populasi Indonesia. Dengan kepadatan 1.029 jiwa/km², pulau ini
juga menjadi salah satu pulau di dunia yang paling dipadati penduduk. Sekitar
45% penduduk Indonesia berasal dari etnis Jawa. Walaupun demikian sepertiga
bagian barat pulau ini (Jawa Barat, Banten, dan Jakarta) memiliki kepadatan
penduduk lebih dari 1.400 jiwa/km2.
Sejak tahun
1970-an hingga kejatuhan Suharto pada tahun 1998, pemerintah Indonesia
melakukan program transmigrasi untuk
memindahkan sebagian penduduk Jawa ke pulau-pulau lain di Indonesia yang lebih
luas. Program ini terkadang berhasil, namun terkadang menghasilkan konflik
antara transmigran pendatang dari Jawa dengan populasi penduduk setempat. Di
Jawa Timur banyak pula terdapat penduduk dari etnis Madura dan Bali, karena
kedekatan lokasi dan hubungan bersejarah antara Jawa dan pulau-pulau tersebut.
Jakarta dan wilayah
sekelilingnya sebagai daerah metropolitan yang dominan serta
ibukota negara, telah menjadi tempat berkumpulnya berbagai suku bangsa di
Indonesia.
4.
MATA
PENCAHARIAN
Masyarakat
suku jawa di daerah saya pada umunya bermata pencaharian sebagai petani, ada
juga yang bekerja sebagian yang berdagang, pegawai negeri, dan pegawai swasta. Namun di perkotaan mereka mendominasi pegawai negeri
sipil, BUMN, anggota DPR/DPRD, pejabat eksekutif, pejabat legislatif, pejabat
kementerian dan militer. Orang Jawa adalah etnis paling banyak di dunia artis
dan model. Orang Jawa juga banyak yang bekerja di luar negeri, sebagai buruh
kasar dan pembantu rumah tangga. Orang Jawa mendominasi tenaga kerja Indonesia
di luar negeri terutama di negara Malaysia, Singapura, Filipina, Jepang, Arab
Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Taiwan, AS dan Eropa.
5.
ORGANISASI
SOSIAL
Masyarakat
Jawa pada umumnya menganut sistem kekerabatan Patrinial. Yang apabila anggota
keluarga (perempuan) yang menikah maka dia harus ikut suami. Masyarakat jawa
sangat tinggi solidaritasnya, sehingga dalam bekerjasama masyarakatnya saling
membantu dan tidak memikirkan imbalan dari pekerjaan yang sudah dilakukan. Masyarakat
Jawa juga terkenal akan pembagian golongan-golongan sosialnya. Pakar antropologi
Amerika yang ternama, Clifford Geertz, pada tahun
1960-an membagi masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok: kaum santri, abangan dan priyayi. Menurutnya
kaum santri adalah penganut agama Islam yang taat,
kaum abangan adalah penganut Islam secara nominal atau penganut Kejawen,
sedangkan kaum Priyayi adalah kaum bangsawan. Tetapi dewasa ini pendapat Geertz
banyak ditentang karena ia mencampur golongan sosial dengan golongan
kepercayaan. Kategorisasi sosial ini juga sulit diterapkan dalam menggolongkan
orang-orang luar, misalkan orang Indonesia lainnya dan suku bangsa non-pribumi seperti
orang keturunan Arab, Tionghoa, dan India.
6.
RELIGI
Orang
Jawa sebagian besar secara nominal menganut agama Islam.
Tetapi ada juga yang menganut agama Protestan
dan Katolik.
Mereka juga terdapat di daerah pedesaan. Penganut agama Buddha
dan Hindu
juga ditemukan pula di antara masyarakat Jawa. Ada pula agama kepercayaan suku
Jawa yang disebut sebagai agama Kejawen.
Kepercayaan ini terutama berdasarkan kepercayaan animisme
dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat. Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme
kepercayaannya. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai
Jawa sehingga kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur.
7.
KESENIAN
Orang
Jawa terkenal dengan budaya seninya yang terutama dipengaruhi oleh agama
Hindu-Buddha, yaitu pementasan wayang.
Cerita wayang atau lakon
sebagian besar berdasarkan wiracaritaRamayana
dan Mahabharata.
Selain pengaruh India, pengaruh Islam
dan Dunia Baratjuga
mempengaruhi seni yang berkembang di Jawa. Seni batik
dan keris
merupakan dua bentuk ekspresi masyarakat Jawa. Musik gamelan
berkembang dalam kehidupan budaya dan tradisi Jawa.
8.
SISTEM
PENGETAHUAN
Sistem
pengetahuan masyarakat jawa sudah berkembang diberbagai bidang, misalnya dalam
bidang IPTEK, ilmu alam, dll. Masyarakat jawa terkenal ulet dalam mengerjakan
sesuatu dan juga dalam hal belajar, oleh karena itulah masyarakat jawa
berkempangpesat dalam bidang ilmu pengetahuan.
9.
PERALATAN
HIDUP
Dapat
kita lihat sekarang berbagai kerajinan tangan yang dihasilkan oleh masyarakat
jawa, sehingga dapat dijelaskan mengenai peralatan-peralatan yang digunakan
masyarakat jawa dahulu sudah beragam, ada yang terbuat dari tanah liat, batu,
dan juga kayu. Seperti contoh untuk peralatan yang terbuat dari tanah liat :
Gentong (untuk tempat beras), Kendi, piring dari tanah liat, gelas dari tanah
liat, penggorengan (digunakan untuk menggoreng kopi) dan lain-lain, sedangkan
alat yang dibuat dari batu yaitu cobek (alat untuk menghaluskan bumbu masak),
penumbuk kopi, dll. Dan alat yang terbuat dari kayu yaitu penumbuk padi dan
perabotan rumah seperti meja, kursi, tempat tidur, dll.
10. PERUBAHAN
Perubahan
pada masyarakat Jawa mungkin disebabkan adanya migrasi kedaerah luar Jawa dan
adanya pengaruh dari luar. Sehingga budaya asli Jawa banyak di abaikan oleh
masyarakat aslinya. Seperti sekarang ini budaya Jawa mulai luntur di daerah
perkotaan. Misalnya dalam berpakaian pada saat ada suatu acara resmi, masyrakat
lebih memilih berpakaian gaya modern dari pada menggunakan pakaian khas seperti
kebaya, dari uraian ini sudah sangat jelas perubahan yang terjadi pada
masyarakat jawa yang dulunya sangat konsisten dengan budaya asli sukunya.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Suku Jawa merupakan
suku bangsa terbesar di Indonesia yang
berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setidaknya
41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. Selain di ketiga propinsi
tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara. Di Jawa Barat mereka
banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon.
Bahasa yang digunakan suku (Jawa) adalah
Bahasa Jawa. Bahasa lisan lebih sering di gunakan oleh suku kami dalam
kehidupan sehari-hari. Bahasa lisan terbagi menjadi bahasa “boso” yang lebih
sopan dan bahasa kasar.
3.2 SARAN
Indonesia kaya sekali akan keragaman suku dan
budayanya, oleh karena itu kita hendaknya harus menjaga dan melestarikan kebudayaan
dan kesenian warisan leluhur dari nenek moyang kita agar tidak di ambil suku
dan kebudayaan oleh bangsa lain. Karena yang dimiliki oleh orang Jawa merupakan
bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia ini. Oleh sebab itu suku Jawa tetap
terjaga keberadaannya dan tetap menjadi kesatuan dari bangsa Indonesia
DAFTAR
PUSTAKA
Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:Rineka Cipta
Ahmad, Saebeni Beni. 2012. Pengantar Antropologi. Bandung: Pustaka Setia
http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa
makasih bar artikelnya membantu saya
BalasHapusThx this article's very helpful ^_^
BalasHapus